Tiba-tiba saja rumah ini menjadi sarang gosip. Ibuku bersama dua kakak perempuanku heboh membicarakan saudara sepupuku yang akan bertandang ke rumah ini. Bahkan ayahku pun ikut-ikutan meramaikan suasana pasar gosip di rumah.
Mereka mulai gila. Hanya aku yang normal, yang tidak suka ikut campur dengan gosip murahan tentang Deni, Si Lemah Berkepala Batu.
“Jadi kapan Deni ke sini, Pa?” Tanya Kak Nita pada Papa yang sedang asik mengopi sambil membolak-balik halaman koran di ruang tengah. Aku tidak yakin dia sedang membaca berita, paling melihat kolom iklan dan memastikan produk perusahaannya terpampang di sana.
“Dalam waktu dekat. Yah, kira-kira minggu inilah.”
“Aku sudah tak sabar melihatnya datang ke sini,” ujar Kak Nita berbunga-bunga, “Kapan kita terakhir ketemu Deni, Met?” kali ini dia bertanya pada adiknya, Kak Meta.
“Hampir setahun!” Seru Kak Meta dari balik dinding dapur.
Berlebihan! seruku dalam hati. Bahkan gosip mereka tak terhalangi oleh dinding dapur sekalipun! Perempuan memang dahsyat kalau sudah urusan gosip.
Aku yang sedari tadi duduk di dekat Papa dan Kak Nita sambil menonton acara televisi hanya diam. Tidak nafsu sama sekali untuk ikut menimbrung perbincangan mereka.
“Dia anak baik,” ujar Papa, “sama seperti ayahnya.”
“Iya waktu kita terakhir berkunjung ke rumahnya, sambutannya sangat ramah. Aku suka dengan keluarga Pakde Kukuh.”
Kemudian Mama turun dari lantai dua sambil membawa buntalan seprai kotor bergabung dengan kami sebentar di ruang tengah. “Kamar untuk Deni sudah Mama siapkan. Dia akan tidur di depan kamar Ravian.” Mama melirikku sekilas. Aku tak menggubris.
“Nggak di dekat kamarku aja, Ma?” Canda Meta yang muncul dari dapur. Di tangannya sudah ada baki berisi dua gelas sirup dingin.
Kak Nita terkekeh. Dia bangkit menyongsong Kak Meta dengan bakinya, mengambil segelas sirup dan kembali duduk. “Dasar ganjen!” Serunya.
Kak Meta tertawa. Mama hanya mengeluarkan suara, hush! Seperti mau mengusir ayam saja. “Aku nggak akan macam-macam kok, Ma,” ujar Kak Meta masih dengan nada nakal yang dibuat-buat.
Menyebalkan.
“Eh, Rav. Kamu nggak pernah ikut sih kalau ke rumah Pakde Kukuh.”
Aku terkesiap. Disambar oleh Kak Nita begitu saja.
“Minumku mana?” Aku malah menanyakan hal di luar topik pembicaraan.
Kak Meta menjitakku. “Ambil sendiri!” Serunya, “Cowok manja!”
“Sial!” Umpatku sambil mengelus-ngelus kepalaku yang berdenyut. Akhirnya aku bangkit berdiri, berniat mengambil sendiri minumanku. Kak Meta curang! Awas ya, nanti kubalas!
“Loh, liburan kemarin kamu nggak ikut lagi ke rumah Pakde Kukuh?” Papa bertanya menginterogasi. Aku sudah terlanjur sampai di bibir dapur.
“Aku ada kegiatan di kampus!” Seruku nyaring.
“Dasar!” balas Kak Meta.
“Papa kan juga nggak ke sana?” Aku membela diri. “Lagipula teman-teman di kampus sedang membutuhkanku.”
Rasanya aku seperti bicara sendiri di dapur sini. Karena kudengar mereka cekakak-cekikik membicarakan Deni. Sial! Aku tak dianggap. Biarlah, memangnya kupikirin!
Lalu ibu memasuki dapur, menaruh seprai yang dibawanya ke dalam keranjang cucian kotor. Sambil lalu dia berkata, “Papa kan harus masuk kantor.” Rupanya Mama masih mendengarkanku tadi.
“Jadi semester ini dia resmi masuk UI?” Tanya Kak Meta entah pada siapa.
“Hebat ya!” Seru Kak Nita. Itu bukan jawaban, kataku dalam hati. Nggak nyambung!
“Jadi benar, dia melepas kuliahnya di Bogor demi masuk UI?” Meta masih berapi-api.
“Ih, keren banget! Semangat ya si Deni!” Lagi-lagi Kak Nita berkomentar tidak nyambung.
“Masuk UI bukannya mimpi kalian berdua dulu?” Mama malah bertanya padaku yang sedang asik menuang sirup ke dalam gelas. Lagi-lagi aku terkesiap. Merasa ditanya tidak pada waktunya.
“Itu kan cuma mimpi zaman SMP dulu,” ujarku sekenanya.
Mama menepukku pundakku, “Kamu cuma nggak berani.”
Kemudian dia meninggalkanku di dapur. Aku sendirian. Seperti diasingkan. Entahlah, perasaan macam apa ini! Hey aku bukan cowok lemah! Aku mengumpat pada diriku sendiri.
Hah…. Dalam waktu dekat, rumah ini tidak akan sama lagi rasanya. Deni akan tinggal di sini sampai kuliahnya selesai. Itu artinya sampai empat atau lima tahun ke depan. Apa jurusan yang diambilnya? Biologi murni? Kenapa juga nggak mengambil di IPB? Itu kan lebih dekat dengan rumahnya. Apa menurutnya Biologi di UI lebih bagus daripada di IPB? Ah, pemikiran yang nggak masuk akal. IPB dan UI kan sama-sama PTN, harusnya dia bisa berpikir jernih. Tinggal di rumah ini sama saja merepotkan orang lain.
Aku mendengus sendiri. Sirup yang kubuat kuteguk hingga tandas.
*****
Continue reading ‘Who’s The Crap?’
-6.247447
107.148452
Ditulis dalam Celoteh
Tag: cerita, cerpen, fiksi, lelaki
Celoteh mereka