Sekelumit Rasa Rindu (The Complicated Missing)

•18 Januari 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rasanya seperti membangun sebuah deret hitung geometri, berlipat ganda tak terbendung.  Inilah untaian rasa rindu yang tercipta begitu saja.  Ikatan emosi yang terangkai tanpa makna.

Dia begitu manis terasa, seperti manisnya citraan segitiga pascal yang luar biasa.  Rapi, bersusun bagai piramida yang kokoh.  Dialah sosok yang mengisi pahitnya kekosongan batin ini.

Saat rasa rindu ini mengoyak logika, membentang melengkung, membentuk kurva, sampai pada titik ekstrim berordinat tinggi.  Menggebu-gebu sampai tak kuasa.  Inilah rasa rindu yang diciptakan olehnya.

Jutaan variabel yang mengisi neuron otakku, memaksaku mencari jawaban atas kalimat terbuka yang menganga. Dimana x dan y bersinkronisasi membentuk polinom yang sesak dalam kolon. Lemas, menyadari dirinya hadir terlalu sering sebagai pelecut gairah penggugah asa.  Ada harapan jauh di lubuk hatiku, ada banyak nilai untuk setiap variabel kerinduan ini.  Dan tanpa kusadari, telah kugandakan melebihi kapasitasku dengan eksponensial tak berakal.  Berpangkat tak sebenarnya, bernilai irasional, bermakna imajiner, berkutat dalam emosi yang memeras logikaku.

Kehadirannya sebenarnya sudah diformulasikan oleh Tuhan.  Keterasingan yang kadang hinggap justru memecah kepalaku dan menyadarkan bius birahiku. Ada catatan yang disimpan Tuhan untukku, ada sekelumit rasa rindu yang akan memeras air mata darahku.  Tuhan telah sengaja mengirimnya sampai di hatiku.  Membawa banyak peluang untuk mentransformasikan keberadaanku, membuatku secara emosi tertranslasi, terotasi, terdilatasi, terombang-ambing dalam dimensi yang pasi.

Aku menyadari kesalahan ini memiliki rasa nikmat yang berarti.  Kebimbangan ini memiliki emosi yang rumit, yang kadang membuatku serasa terjepit.  Dan sekelumit rasa rindu ini telah diciptakan olehnya dengan penuh kejujuran.

 

Who’s The Crap?

•29 Desember 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tiba-tiba saja rumah ini  menjadi sarang gosip.  Ibuku bersama dua kakak perempuanku heboh membicarakan saudara sepupuku yang akan bertandang ke rumah ini.  Bahkan ayahku pun ikut-ikutan meramaikan suasana pasar gosip di rumah.

Mereka mulai gila.  Hanya aku yang normal, yang tidak suka ikut campur dengan gosip murahan tentang Deni, Si Lemah Berkepala Batu.

“Jadi kapan Deni ke sini, Pa?” Tanya Kak Nita pada Papa yang sedang asik mengopi sambil membolak-balik halaman koran di ruang tengah.  Aku tidak yakin dia sedang membaca berita, paling melihat kolom iklan dan memastikan produk perusahaannya terpampang di sana.

“Dalam waktu dekat. Yah, kira-kira minggu inilah.”

“Aku sudah tak sabar melihatnya datang ke sini,” ujar Kak Nita berbunga-bunga, “Kapan kita terakhir ketemu Deni, Met?” kali ini dia bertanya pada adiknya, Kak Meta.

“Hampir setahun!” Seru Kak Meta dari balik dinding dapur.

Berlebihan! seruku dalam hati.  Bahkan gosip mereka tak terhalangi oleh dinding dapur sekalipun! Perempuan memang dahsyat kalau sudah urusan gosip.

Aku yang sedari tadi duduk di dekat Papa dan Kak Nita sambil menonton acara televisi hanya diam.  Tidak nafsu sama sekali untuk ikut menimbrung perbincangan mereka.

“Dia anak baik,” ujar Papa, “sama seperti ayahnya.”

“Iya waktu kita terakhir berkunjung ke rumahnya, sambutannya sangat ramah.  Aku suka dengan keluarga Pakde Kukuh.”

Kemudian Mama turun dari lantai dua sambil membawa buntalan seprai kotor bergabung dengan kami sebentar di ruang tengah. “Kamar untuk Deni sudah Mama siapkan.  Dia akan tidur di depan kamar Ravian.” Mama melirikku sekilas.  Aku tak menggubris.

“Nggak di dekat kamarku aja, Ma?” Canda Meta yang muncul dari dapur.  Di tangannya sudah ada baki berisi dua gelas sirup dingin.

Kak Nita terkekeh.  Dia bangkit menyongsong Kak Meta dengan bakinya, mengambil segelas sirup dan kembali duduk.  “Dasar ganjen!” Serunya.

Kak Meta tertawa.  Mama hanya mengeluarkan suara, hush! Seperti mau mengusir ayam saja. “Aku nggak akan macam-macam kok, Ma,” ujar Kak Meta masih dengan nada nakal yang dibuat-buat.

Menyebalkan.

“Eh, Rav. Kamu nggak pernah ikut sih kalau ke rumah Pakde Kukuh.”

Aku terkesiap.  Disambar oleh Kak Nita begitu saja.

“Minumku mana?” Aku malah menanyakan hal di luar topik pembicaraan.

Kak Meta menjitakku. “Ambil sendiri!” Serunya, “Cowok manja!”

“Sial!” Umpatku sambil mengelus-ngelus kepalaku yang berdenyut.  Akhirnya aku bangkit berdiri, berniat mengambil sendiri minumanku.  Kak Meta curang! Awas ya, nanti kubalas!

“Loh, liburan kemarin kamu nggak ikut lagi ke rumah Pakde Kukuh?” Papa bertanya menginterogasi.  Aku sudah terlanjur sampai di bibir dapur.

“Aku ada kegiatan di kampus!” Seruku nyaring.

“Dasar!” balas Kak Meta.

“Papa kan juga nggak ke sana?” Aku membela diri. “Lagipula teman-teman di kampus sedang membutuhkanku.”

Rasanya aku seperti bicara sendiri di dapur sini.  Karena kudengar mereka cekakak-cekikik membicarakan Deni.  Sial! Aku tak dianggap.  Biarlah, memangnya kupikirin!

Lalu ibu memasuki dapur, menaruh seprai yang dibawanya ke dalam keranjang cucian kotor.  Sambil lalu dia berkata, “Papa kan harus masuk kantor.” Rupanya Mama masih mendengarkanku tadi.

“Jadi semester ini dia resmi masuk UI?” Tanya Kak Meta entah pada siapa.

“Hebat ya!” Seru Kak Nita.  Itu bukan jawaban, kataku dalam hati. Nggak nyambung!

“Jadi benar, dia melepas kuliahnya di Bogor demi masuk UI?” Meta masih berapi-api.

“Ih, keren banget! Semangat ya si Deni!” Lagi-lagi Kak Nita berkomentar tidak nyambung.

“Masuk UI bukannya mimpi kalian berdua dulu?” Mama malah bertanya padaku yang sedang asik menuang sirup ke dalam gelas.  Lagi-lagi aku terkesiap.  Merasa ditanya tidak pada waktunya.

“Itu kan cuma mimpi zaman SMP dulu,” ujarku sekenanya.

Mama menepukku pundakku, “Kamu cuma nggak berani.”

Kemudian dia meninggalkanku di dapur.  Aku sendirian.  Seperti diasingkan.  Entahlah, perasaan macam apa ini! Hey aku bukan cowok lemah! Aku mengumpat pada diriku sendiri.

Hah…. Dalam waktu dekat, rumah ini tidak akan sama lagi rasanya.  Deni akan tinggal di sini sampai kuliahnya selesai.  Itu artinya sampai empat atau lima tahun ke depan.  Apa jurusan yang diambilnya? Biologi murni? Kenapa juga nggak mengambil di IPB? Itu kan lebih dekat dengan rumahnya. Apa menurutnya Biologi di UI lebih bagus daripada di IPB? Ah, pemikiran yang nggak masuk akal.  IPB dan UI kan sama-sama PTN, harusnya dia bisa berpikir jernih.  Tinggal di rumah ini sama saja merepotkan orang lain.

Aku mendengus sendiri.  Sirup yang kubuat kuteguk hingga tandas.

*****

Continue reading ‘Who’s The Crap?’

Being Selfish…!

•11 Agustus 2011 • 2 Komentar

Sambil menarik nafas, kupejamkan mata dengan rileks.

Aku berkata pada diriku sendiri, “Setiap orang punya pandangan sendiri terhadap suatu perkara. Setiap orang punya urusan masing-masing. So, jangan ikut campur dalam kehidupan orang lain.”

Oke, untuk sementara, pisahkan emosi dan perasaan. Apapun yang bersarang di hati, bukanlah sesuatu yang rasional. Maka, jangan sampai merusak segala visi yang sudah ditanamkan di bawah otak kiri. Apapaun yang terjadi di luar lingkaran pribadi adalah hal-hal yang tidak patut ditarik ke dalam privasi.

Lupakan teman, kerabat, kekasih, saudara, bahkan ibu dan bapak. Mereka ada untuk mendukung visi, bukan untuk merusak misi. Maka luruskan niat, pancangkan tekad, dan katakan pada mereka bahwa kita membutuhkan mereka sebagai sumber daya motivasi. Sekali lagi, bukan penentu rencana. Bukan pelaksana.

Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita rencanakan, apapun bentuknya. Keraguan sama saja bunuh diri. Keikutsertaan emosi sama saja melemahkan. Jadilah kuat. Jadilah tegar. Apa yang orang lain katakan bukanlah esensi hidup, setiap orang hanya mengungkapkan apa yang tampak di matanya, apa yang bisa dicerna otaknya. Maka lupakan mereka. Karena pengait emosi pada mereka adalah kehancuran kita.

Hidup kita bukanlah hidup mereka. Hidup kita sepenuhnya jadi tanggung jawab kita sendiri. Tidak akan pernah ada satu orang pun yang mau menanggung dosa orang lain. Maka kehancuran kita adalah buatan tangan kita sendiri, maka jangan biarkan tangan kita diatur oleh orang lain.

Lakukan yang kita cintai, dan cintai apa yang kita lakukan.

Pekerjaan adalah sebuah jalan menuju kematangan hidup.

Pekerjaan adalah karunia Tuhan, bukan pemberian dari orang. Maka syukuri sebagai rizki dari Yang Maha Kuasa, jangan terbelenggu pjada perasaan berutang budi. Ada segudang pekerjaan untuk kita. Orang lain hanyalah jembatan menuju pintu rizki yang sudah disiapkan Tuhan sejak empat puluh hari dalam kandungan.

Maka jangan runtuhkan jembatan tersebut. Manfaatkan, gunakan, berdayakan. Kita memiliki kekuatan pada diri masing-masing. Dan sesungguhnya ketakutan adalah kekuatan yang sebenarnya. Takutlah pada keberanian, karena dengan sebuah keberanian kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Termasuk menjadi pribadi yang jahat sekalipun.

The Auditory

•8 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

I'm The Auditory

Aku terusik oleh bisikanmu.

Aku terpanggil oleh desahanmu.

Aku adalah auditory.

Panggil aku dengan kelembutanmu, sentuh aku dengan suara merdumu.  Mendekatlah ke telingaku, dan ungkapkanlah perasaanmu.  Desau nafasmu begitu syahdu menyapu daun telingaku, begitu menggelitik ke dalam saluran eustachius.

Maka dendangkanlah hatimu.  Aku mendengarmu.  Maka bernyanyilah untukku.  Aku memahamimu.

Kau tahu, betapa pedih hatiku saat kau berujar dengan kata-kata datar yang seakan mencampakkanku.  Rasanya begitu sakit saat mendengarmu mengatakan hal-hal kasar di luar kebiasaanku.  Aku bisa menangkap emosimu lewat suara, aku bisa membacamu lewat telinga, aku bisa memahamimu lewat nada.  Maka pelankan intonasimu saat menyampaikan ketidaksukaanmu, lembutkan suaramu saat membicarakan perasaanmu.  Aku mendengarmu, sungguh.

Aku adalah auditory.

Aku membaca lewat cerita.  Aku berkaca lewat suara.  Aku sangat peka lewat telinga.  Dan aku mencintai suaramu saat bercerita, suaramu saat bergumam dan suaramu saat mendesah.

Kau tahu? Saat kau mengatakan cinta, saat itulah aku merasa kau membelaiku mesra.  Saat kau mengatakan sayang, saat itulah kau memelukku dengan hangat.

Aku adalah auditory.  Aku mendengarmu, sungguh.

Dingin

•7 Juli 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Senyummu seperti luka.

Itu yang kurasakan saat mata kita bertatapan.  Kau seperti enggan untuk didekati, dijamah, disentuh.  Kau seperti menjauh dariku yang memang telah salah mengatakan tentang perasaanku.  Kau pergi berpaling, mencari orang lain.  Katu tidak lagi membutuhkanku sebagai tempat sampah uneg-unegmu, karena kau kini jengah denganku.

Apakah ini hanya perasaanku saja?  Apakah ini hanya siratan semata karena kita telah begitu lama tak saling sapa?

Aku akui, kejujuran tak selamanya berbuah manis.  Dan itu terasa dalam kedekatan kita.  Kau menjadi dingin, menjadi beku, menjadi kaku.  Setelah kulayangkan sebuah pesan singkat yang bahkan aku pun tak berani membacanya lagi untuk yang kedua kali.  Kau menjadi diam, menjadi tak bersuara, seakan menjadi tak bernyawa.

Tolong katakan jika aku salah.

Aku hanya mengatakan dengan jujur tentang perasaanku.  Tentang sudut pandangku.  Tentang pandangan hidupku.  Tentang orientasiku.  Mungkin hatiku memang tak bersambut, dan kita berbeda sudut pandang, serta kau memiliki arah hidup dan orientasi yang berbeda denganku.

Tapi itu bukan alasan untuk membuatmu dingin, kan?

Tapi itu bukan alasan untuk membuat kita menjadi seperti orang asing yang tidak saling mengenal, kan?

Aku sudah katakan, apapun yang kau pikirkan dan apapun yang kau rasakan jangan mengubah apa yang sudah terjalin di antara kita.  Kebersamaan seharusnya tetap menjadi milik kita, bukan orang lain.  Karena kebersamaan yang kita bangun selama ini telah begitu hangat terasa.  Meski kehangatannya telah menyengatku dan membuatku hilang arah.

Aku sama sekali tidak berniat menghancurkan piramida persaudaraan kita selama ini.  Tidak.  Aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa aku telah memiliki perasaan yang lebih dalam dari sekadar pertemanan, dari sekedar persahabatan dan dari sekadar persaudaraan.  Perasaan yang lebih dalam ini menghujam memasuki rusukku yang rumpang.  Mengisi relung hatiku yang gamang.

Bagaimana caranya agar kita bisa kembali?

Aku tahu kau pasti berkata tidak bisa.  Tapi aku yakin apa yang sudah pernah kita bina adalah sebuah anugerah Tuhan yang perlu kita bina.  Ada nilai kebaikan di sana.  Maka aku hanya ingin kembali mengembalikan kedinginan yang kurasakan selama ini kepada kehangatan yang lebih netral.

Kau dingin.  Itu kurasakan betul.  Tapi aku yakin, masih ada sisa kehangatan untukku.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 162 pengikut lainnya.