Dingin
Senyummu seperti luka.
Itu yang kurasakan saat mata kita bertatapan. Kau seperti enggan untuk didekati, dijamah, disentuh. Kau seperti menjauh dariku yang memang telah salah mengatakan tentang perasaanku. Kau pergi berpaling, mencari orang lain. Katu tidak lagi membutuhkanku sebagai tempat sampah uneg-unegmu, karena kau kini jengah denganku.
Apakah ini hanya perasaanku saja? Apakah ini hanya siratan semata karena kita telah begitu lama tak saling sapa?
Aku akui, kejujuran tak selamanya berbuah manis. Dan itu terasa dalam kedekatan kita. Kau menjadi dingin, menjadi beku, menjadi kaku. Setelah kulayangkan sebuah pesan singkat yang bahkan aku pun tak berani membacanya lagi untuk yang kedua kali. Kau menjadi diam, menjadi tak bersuara, seakan menjadi tak bernyawa.
Tolong katakan jika aku salah.
Aku hanya mengatakan dengan jujur tentang perasaanku. Tentang sudut pandangku. Tentang pandangan hidupku. Tentang orientasiku. Mungkin hatiku memang tak bersambut, dan kita berbeda sudut pandang, serta kau memiliki arah hidup dan orientasi yang berbeda denganku.
Tapi itu bukan alasan untuk membuatmu dingin, kan?
Tapi itu bukan alasan untuk membuat kita menjadi seperti orang asing yang tidak saling mengenal, kan?
Aku sudah katakan, apapun yang kau pikirkan dan apapun yang kau rasakan jangan mengubah apa yang sudah terjalin di antara kita. Kebersamaan seharusnya tetap menjadi milik kita, bukan orang lain. Karena kebersamaan yang kita bangun selama ini telah begitu hangat terasa. Meski kehangatannya telah menyengatku dan membuatku hilang arah.
Aku sama sekali tidak berniat menghancurkan piramida persaudaraan kita selama ini. Tidak. Aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa aku telah memiliki perasaan yang lebih dalam dari sekadar pertemanan, dari sekedar persahabatan dan dari sekadar persaudaraan. Perasaan yang lebih dalam ini menghujam memasuki rusukku yang rumpang. Mengisi relung hatiku yang gamang.
Bagaimana caranya agar kita bisa kembali?
Aku tahu kau pasti berkata tidak bisa. Tapi aku yakin apa yang sudah pernah kita bina adalah sebuah anugerah Tuhan yang perlu kita bina. Ada nilai kebaikan di sana. Maka aku hanya ingin kembali mengembalikan kedinginan yang kurasakan selama ini kepada kehangatan yang lebih netral.
Kau dingin. Itu kurasakan betul. Tapi aku yakin, masih ada sisa kehangatan untukku.
