The Auditory

Aku terusik oleh bisikanmu.
Aku terpanggil oleh desahanmu.
Aku adalah auditory.
Panggil aku dengan kelembutanmu, sentuh aku dengan suara merdumu. Mendekatlah ke telingaku, dan ungkapkanlah perasaanmu. Desau nafasmu begitu syahdu menyapu daun telingaku, begitu menggelitik ke dalam saluran eustachius.
Maka dendangkanlah hatimu. Aku mendengarmu. Maka bernyanyilah untukku. Aku memahamimu.
Kau tahu, betapa pedih hatiku saat kau berujar dengan kata-kata datar yang seakan mencampakkanku. Rasanya begitu sakit saat mendengarmu mengatakan hal-hal kasar di luar kebiasaanku. Aku bisa menangkap emosimu lewat suara, aku bisa membacamu lewat telinga, aku bisa memahamimu lewat nada. Maka pelankan intonasimu saat menyampaikan ketidaksukaanmu, lembutkan suaramu saat membicarakan perasaanmu. Aku mendengarmu, sungguh.
Aku adalah auditory.
Aku membaca lewat cerita. Aku berkaca lewat suara. Aku sangat peka lewat telinga. Dan aku mencintai suaramu saat bercerita, suaramu saat bergumam dan suaramu saat mendesah.
Kau tahu? Saat kau mengatakan cinta, saat itulah aku merasa kau membelaiku mesra. Saat kau mengatakan sayang, saat itulah kau memelukku dengan hangat.
Aku adalah auditory. Aku mendengarmu, sungguh.

