The Auditory

I'm The Auditory

Aku terusik oleh bisikanmu.

Aku terpanggil oleh desahanmu.

Aku adalah auditory.

Panggil aku dengan kelembutanmu, sentuh aku dengan suara merdumu.  Mendekatlah ke telingaku, dan ungkapkanlah perasaanmu.  Desau nafasmu begitu syahdu menyapu daun telingaku, begitu menggelitik ke dalam saluran eustachius.

Maka dendangkanlah hatimu.  Aku mendengarmu.  Maka bernyanyilah untukku.  Aku memahamimu.

Kau tahu, betapa pedih hatiku saat kau berujar dengan kata-kata datar yang seakan mencampakkanku.  Rasanya begitu sakit saat mendengarmu mengatakan hal-hal kasar di luar kebiasaanku.  Aku bisa menangkap emosimu lewat suara, aku bisa membacamu lewat telinga, aku bisa memahamimu lewat nada.  Maka pelankan intonasimu saat menyampaikan ketidaksukaanmu, lembutkan suaramu saat membicarakan perasaanmu.  Aku mendengarmu, sungguh.

Aku adalah auditory.

Aku membaca lewat cerita.  Aku berkaca lewat suara.  Aku sangat peka lewat telinga.  Dan aku mencintai suaramu saat bercerita, suaramu saat bergumam dan suaramu saat mendesah.

Kau tahu? Saat kau mengatakan cinta, saat itulah aku merasa kau membelaiku mesra.  Saat kau mengatakan sayang, saat itulah kau memelukku dengan hangat.

Aku adalah auditory.  Aku mendengarmu, sungguh.

~ oleh Nouvel Raka pada 8 Juli 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 163 pengikut lainnya.