Being Selfish…!

Sambil menarik nafas, kupejamkan mata dengan rileks.

Aku berkata pada diriku sendiri, “Setiap orang punya pandangan sendiri terhadap suatu perkara. Setiap orang punya urusan masing-masing. So, jangan ikut campur dalam kehidupan orang lain.”

Oke, untuk sementara, pisahkan emosi dan perasaan. Apapun yang bersarang di hati, bukanlah sesuatu yang rasional. Maka, jangan sampai merusak segala visi yang sudah ditanamkan di bawah otak kiri. Apapaun yang terjadi di luar lingkaran pribadi adalah hal-hal yang tidak patut ditarik ke dalam privasi.

Lupakan teman, kerabat, kekasih, saudara, bahkan ibu dan bapak. Mereka ada untuk mendukung visi, bukan untuk merusak misi. Maka luruskan niat, pancangkan tekad, dan katakan pada mereka bahwa kita membutuhkan mereka sebagai sumber daya motivasi. Sekali lagi, bukan penentu rencana. Bukan pelaksana.

Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita rencanakan, apapun bentuknya. Keraguan sama saja bunuh diri. Keikutsertaan emosi sama saja melemahkan. Jadilah kuat. Jadilah tegar. Apa yang orang lain katakan bukanlah esensi hidup, setiap orang hanya mengungkapkan apa yang tampak di matanya, apa yang bisa dicerna otaknya. Maka lupakan mereka. Karena pengait emosi pada mereka adalah kehancuran kita.

Hidup kita bukanlah hidup mereka. Hidup kita sepenuhnya jadi tanggung jawab kita sendiri. Tidak akan pernah ada satu orang pun yang mau menanggung dosa orang lain. Maka kehancuran kita adalah buatan tangan kita sendiri, maka jangan biarkan tangan kita diatur oleh orang lain.

Lakukan yang kita cintai, dan cintai apa yang kita lakukan.

Pekerjaan adalah sebuah jalan menuju kematangan hidup.

Pekerjaan adalah karunia Tuhan, bukan pemberian dari orang. Maka syukuri sebagai rizki dari Yang Maha Kuasa, jangan terbelenggu pjada perasaan berutang budi. Ada segudang pekerjaan untuk kita. Orang lain hanyalah jembatan menuju pintu rizki yang sudah disiapkan Tuhan sejak empat puluh hari dalam kandungan.

Maka jangan runtuhkan jembatan tersebut. Manfaatkan, gunakan, berdayakan. Kita memiliki kekuatan pada diri masing-masing. Dan sesungguhnya ketakutan adalah kekuatan yang sebenarnya. Takutlah pada keberanian, karena dengan sebuah keberanian kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Termasuk menjadi pribadi yang jahat sekalipun.

~ oleh Nouvel Raka pada 11 Agustus 2011.

2 Tanggapan to “Being Selfish…!”

  1. “Lupakan teman, kerabat, kekasih, saudara, bahkan ibu dan bapak. Mereka ada untuk mendukung visi, bukan untuk merusak misi” <= cool!

    • Hehehe… Terimakasih sudah berkunjung…

      Begitulah, kita perlu berdiskusi dengan orang-orang di sekitar kita bahwa kita adalah pribadi mandiri yang punya visi sendiri. Mereka adalah pendukung kita dan bukan penentu arah hidup kita.

      Tapi tentu saja kita juga perlu meluruskan selurus-lurusnya visi hidup kita apa… kita perlu menetapkan tujuan yang tepat, dan orang-orang di sekitar kita punya andil untuk memberi masukan positif untuk kita.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 163 pengikut lainnya.