Who’s The Crap?
Tiba-tiba saja rumah ini menjadi sarang gosip. Ibuku bersama dua kakak perempuanku heboh membicarakan saudara sepupuku yang akan bertandang ke rumah ini. Bahkan ayahku pun ikut-ikutan meramaikan suasana pasar gosip di rumah.
Mereka mulai gila. Hanya aku yang normal, yang tidak suka ikut campur dengan gosip murahan tentang Deni, Si Lemah Berkepala Batu.
“Jadi kapan Deni ke sini, Pa?” Tanya Kak Nita pada Papa yang sedang asik mengopi sambil membolak-balik halaman koran di ruang tengah. Aku tidak yakin dia sedang membaca berita, paling melihat kolom iklan dan memastikan produk perusahaannya terpampang di sana.
“Dalam waktu dekat. Yah, kira-kira minggu inilah.”
“Aku sudah tak sabar melihatnya datang ke sini,” ujar Kak Nita berbunga-bunga, “Kapan kita terakhir ketemu Deni, Met?” kali ini dia bertanya pada adiknya, Kak Meta.
“Hampir setahun!” Seru Kak Meta dari balik dinding dapur.
Berlebihan! seruku dalam hati. Bahkan gosip mereka tak terhalangi oleh dinding dapur sekalipun! Perempuan memang dahsyat kalau sudah urusan gosip.
Aku yang sedari tadi duduk di dekat Papa dan Kak Nita sambil menonton acara televisi hanya diam. Tidak nafsu sama sekali untuk ikut menimbrung perbincangan mereka.
“Dia anak baik,” ujar Papa, “sama seperti ayahnya.”
“Iya waktu kita terakhir berkunjung ke rumahnya, sambutannya sangat ramah. Aku suka dengan keluarga Pakde Kukuh.”
Kemudian Mama turun dari lantai dua sambil membawa buntalan seprai kotor bergabung dengan kami sebentar di ruang tengah. “Kamar untuk Deni sudah Mama siapkan. Dia akan tidur di depan kamar Ravian.” Mama melirikku sekilas. Aku tak menggubris.
“Nggak di dekat kamarku aja, Ma?” Canda Meta yang muncul dari dapur. Di tangannya sudah ada baki berisi dua gelas sirup dingin.
Kak Nita terkekeh. Dia bangkit menyongsong Kak Meta dengan bakinya, mengambil segelas sirup dan kembali duduk. “Dasar ganjen!” Serunya.
Kak Meta tertawa. Mama hanya mengeluarkan suara, hush! Seperti mau mengusir ayam saja. “Aku nggak akan macam-macam kok, Ma,” ujar Kak Meta masih dengan nada nakal yang dibuat-buat.
Menyebalkan.
“Eh, Rav. Kamu nggak pernah ikut sih kalau ke rumah Pakde Kukuh.”
Aku terkesiap. Disambar oleh Kak Nita begitu saja.
“Minumku mana?” Aku malah menanyakan hal di luar topik pembicaraan.
Kak Meta menjitakku. “Ambil sendiri!” Serunya, “Cowok manja!”
“Sial!” Umpatku sambil mengelus-ngelus kepalaku yang berdenyut. Akhirnya aku bangkit berdiri, berniat mengambil sendiri minumanku. Kak Meta curang! Awas ya, nanti kubalas!
“Loh, liburan kemarin kamu nggak ikut lagi ke rumah Pakde Kukuh?” Papa bertanya menginterogasi. Aku sudah terlanjur sampai di bibir dapur.
“Aku ada kegiatan di kampus!” Seruku nyaring.
“Dasar!” balas Kak Meta.
“Papa kan juga nggak ke sana?” Aku membela diri. “Lagipula teman-teman di kampus sedang membutuhkanku.”
Rasanya aku seperti bicara sendiri di dapur sini. Karena kudengar mereka cekakak-cekikik membicarakan Deni. Sial! Aku tak dianggap. Biarlah, memangnya kupikirin!
Lalu ibu memasuki dapur, menaruh seprai yang dibawanya ke dalam keranjang cucian kotor. Sambil lalu dia berkata, “Papa kan harus masuk kantor.” Rupanya Mama masih mendengarkanku tadi.
“Jadi semester ini dia resmi masuk UI?” Tanya Kak Meta entah pada siapa.
“Hebat ya!” Seru Kak Nita. Itu bukan jawaban, kataku dalam hati. Nggak nyambung!
“Jadi benar, dia melepas kuliahnya di Bogor demi masuk UI?” Meta masih berapi-api.
“Ih, keren banget! Semangat ya si Deni!” Lagi-lagi Kak Nita berkomentar tidak nyambung.
“Masuk UI bukannya mimpi kalian berdua dulu?” Mama malah bertanya padaku yang sedang asik menuang sirup ke dalam gelas. Lagi-lagi aku terkesiap. Merasa ditanya tidak pada waktunya.
“Itu kan cuma mimpi zaman SMP dulu,” ujarku sekenanya.
Mama menepukku pundakku, “Kamu cuma nggak berani.”
Kemudian dia meninggalkanku di dapur. Aku sendirian. Seperti diasingkan. Entahlah, perasaan macam apa ini! Hey aku bukan cowok lemah! Aku mengumpat pada diriku sendiri.
Hah…. Dalam waktu dekat, rumah ini tidak akan sama lagi rasanya. Deni akan tinggal di sini sampai kuliahnya selesai. Itu artinya sampai empat atau lima tahun ke depan. Apa jurusan yang diambilnya? Biologi murni? Kenapa juga nggak mengambil di IPB? Itu kan lebih dekat dengan rumahnya. Apa menurutnya Biologi di UI lebih bagus daripada di IPB? Ah, pemikiran yang nggak masuk akal. IPB dan UI kan sama-sama PTN, harusnya dia bisa berpikir jernih. Tinggal di rumah ini sama saja merepotkan orang lain.
Aku mendengus sendiri. Sirup yang kubuat kuteguk hingga tandas.
*****
Jam berapa ini? Oh, iya. Ini jam 7. Biasanya jam-jam segini aku akan bertandang ke rumah Heru yang rumahnya tak begitu jauh. Tapi tidak untuk malam ini. Karena malam ini spesial. Heru adalah teman satu kampus di BSI, satu kelas pula.
Ya, malam ini aku tidak bisa ke rumah Heru karena keluargaku bersiap-siap menyambut tamu istimewa yang datang dari Bogor. Siapa lagi kalau bukan Deni, Si Lemah Berkepala Batu. Si ambisius yang sudah menjadi bulan-bulanan pembicaraan di rumahku sejak sebulan yang lalu. Dan aku harus ikut-ikutan menyambutnya kalau masih mau dianggap bagian dari keluarga Amarta. Menyebalkan! Masa sebegitu pentingnya Deni Pangestu sampai harus mendepak Ravian Amarta dari keluarganya. Hebat! Keluarga Amarta yang hebat! Sekaligus gila!
Gue nggak bisa ke rumah lo. Aku mengirim pesan BBM pada Heru.
Tumben, padahal di sini ada manisan salak loh! Heru membalas.
Sial! Bikin ngiler!
Eh, bukannya lo emang selalu ngiler? Hehehe.
*Plak!! (Tabokan Maut).
Aw!! Sakit dah kepala gue! Hahaha.
Gue lagi ketiban sial nih! Bokap-nyokap gue maksa menyambut sepupu gue yang mau datang malam ini.
Hm…
Kok Hm?
Gue takut kalo ke rumah lo nanti dibilang ketiban sial juga lagi!
Hahahaha…Ya enggak lah!
Hehehehe…
Besok ke kampus nggak?
Tiba-tiba pintu kamarku terketuk. Mama memanggilku.
“Ayo turun, Rav!” Serunya dari luar kamar, “Deni baru saja tiba.”
Aku mendengus. Bangkit dari kasurku dan melihat kekusutan rupaku di cermin. Gosh! Harus pasang wajah manis nih, biar uang saku nggak disunat Papa gara-gara nggak ramah sama tamu.
Aku pun turun ke bawah masih dengan menggenggam BB. Heran, Heru belum juga membalas. Anak itu soalnya punya hobi menitip absen, dan tentu saja orang yang dititipi adalah aku. Dan begonya aku selalu mau membantunya menipu dosen. Sepertinya ada yang korsleting di neuron otakku.
Sampai di kaki tangga aku tidak melihat orang-orang. Tapi dari ributnya suara aku tahu mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Maka aku pun melangkah ke sana. Sedikitnya dua kali kutelan ludah yang tercekat di kerongkongan. Aku heran dengan diriku sendiri, mengapa jadi gugup begini. Aku kan cuma mau bertemu dengan Deni Pangestu, sepupu yang sudah enam tahun terakhir tidak kutemui batang hidungnya. Bahkan berteman dengannya di facebook pun aku enggan.
Saat aku sampai di bibir ruang tamu, aku terpaku. Deni berdiri di ambang pintu sementara keluargaku dengan hebohnya melontarkan sambutan yang berlebihan.
Oke, ini kali ketiga kutelan ludahku. Aku melihat sosok Deni yang sangat berbeda. Sangat tinggi, sangat kalem, sangat….dewasa. Darimana dia mendapatkan sosok itu!
“Ya Tuhan, Meta. Sudah deh. Nanti saja ngobrolnya, biar Deni duduk-duduk dulu di ruang tengah,” ujar Mama.
“Makasih, Tante.” Deni tersenyum. Sekilas dia melihat ke arahku, kemudian berpaling ke arah Papa yang menyalaminya. Ayahku itu sok perhatian sekali sampai menepuk-nepuk pundaknya ramah. Kak Nita malah sudah melangkah ke dapur mengambil minuman. Aku cuma diam mematung, persis seperti pajangan ruang tamu yang berdiri di samping guci dari Tiongkok.
Keramaian berpindah ke ruang tengah. Kami semua duduk bersama di sofa. Sepertinya keluargaku sudah menunggu cerita hebat dari Deni yang masih meneguk teh hangatnya. Aku memperhatikannya lekat-lekat.
Tidak seperti kakak-kakakku yang setiap tahun bertemu dengannya, aku melihat perubahan yang luar biasa pada Deni. Dulu aku selalu unggul dalam hal tinggi badan. Dia adalah bocah kurus yang selalu kunilai sebagai anak kurang gizi. Dia juga tidak secekatan dan selincah aku saat berlari. Dan dia adalah cowok paling cengeng yang pernah kutemui. Dia punya ketakutan yang besar pada ketinggian. Tapi dia selalu keras kepala ingin mengikuti gaya bermainku. Itulah mengapa aku menjulukinya Si Lemah Berkepala Batu. Rupanya rentang waktu enam tahun cukup membuatnya menjadi lebih tinggi dariku, lebih berisi badannya. Dan aku sangat heran dengan tatapan kalem yang sok dewasa dari matanya. Hebat betul dia bisa bersikap begitu.
“Papa jadi heran, kalian berdua kan hanya berbeda usia satu tahun. Sudah begitu, Ravian adalah yang lebih tua. Tapi mengapa kalian berbeda sekali sekarang. Kamu sudah terlihat seperti pria dewasa, sementara Ravian masih sangat bocah.”
Aku terkesiap dari lamunan sesaat. Mendengar Papa membandingkanku dengan Deni membuatku muak. Jadi rupanya ayahku itu menyesal punya anak seperti aku. Sungguh gila!
Aku terkekeh menimpali ucapan Papa, “Yah, mungkin hal itu karena aku dibesarkan di rumah ini.” Aku tertawa sendiri. Tapi kemudian Ibu mencubit lenganku dan tersenyum sambil berkata sinis, “Kau ngomong apa sih, Rav!”
Kak Nita dan Kak Meta kompak menertawakanku yang kesakitan dicubit Mama. Aku jadi benar-benar kesal rasanya.
“Saya sangat berterima kasih pada Om dan Tante Amarta. Saya minta maaf jadi merepotkan Om dan Tante,” ujar Deni. Wajahnya penuh takzim menatap Mama dan Papa. Ah, bahkan selama perbincangan ini dia tidak melihat ke arahku.
“Kamu bicara apa, Deni?” Sahut Papa, “Tante dan ayahmu kan kakak beradik, begitulah seharusnya seorang keluarga. Saling membantu dan saling mendukung. Jadi anggap saja di sini rumahmu juga. Yah, walaupun di sini tidak ada akuarium dan kolam ikan kegemaranmu.”
“Terima kasih , Om.” Deni tersenyum.
“Sudah, sudah,” ujar Mama, “sebaiknya kamu ke kamar dulu sementara makan malam kami siapkan. Ravian, ayo kamu antar Deni ke kamarnya.”
Benar-benar tamu agung.
Aku bangkit dari sofa dan mengantarnya ke kamar yang sudah disiapkan Mama. Kamar yang berada tepat di depan kamarku, yang hanya dibatasi koridor sempit di antara kedua pintunya. Itu artinya setiap hari bisa saja aku bertatap muka dengannya saat keluar kamar. Oh tidak.
“Okey, ini kamarmu,” ujarku menunjuk pintu dengan tulisan Deni’s Room. Gosh! Siapa pula yang sangat rajin menempelkan nama itu di pintunya. “Dan kamarku ada di sini.”
“Bisakah kau bukakan pintunya?” tanyanya cepat.
“Eh?”
“Kau lihat kan aku membawa banyak barang.”
Aku diam sesaat, agak terkejut dengan ucapannya yang dingin. Tidak, bukan saatnya untuk berdebat. Aku mengerutkan kening dan membukakan pintu untuknya. What a bossy!
Deni masuk ke kamarnya dan meletakkan barang-barangnya di lantai dekat ranjang. Kemudian dia berkata lagi padaku, “Di bawah masih ada barangku, tolong kau bawakan kemari!”
Aku ternganga! Hey, I’m not your roomboy!
Baru saja aku akan membuka suara menentangnya, Mama sudah berteriak dari bawah, “Ravian, tolong kamu bawakan koper Deni nih…!”
Shit! Aku mengumpat dalam hati. Aku melihat Deni menatapku dingin. Gila! Anak ini gila! Dia bermuka manis pada keluargaku namun seratus delapan puluh derajat memusuhiku. Ya! Wajahnya memusuhiku. Aku tahu itu!
Sepertinya, hari-hariku bakal seperti di neraka.
*****
“Jadi sekarang di rumah lo ada orang lain yang tinggal di sana?”
Icha menyeruput es tehnya setelah bertanya demikian. Suasana kantin kampus yang ramai membuatnya setengah berteriak. Aku memasang wajah muram. “Dia sepupu gue.”
“Dan dia anak UI. Biologi murni!” Heru menyela. Cewek-cewek di depanku berdecak kagum. Aku malah mendengus.
“Hey, kalian tahu kan anak UI tidak ada bedanya dengan anak kampus lain,” aku membela diri. Merasa diserang oleh decak kekaguman mereka.
“Dia pasti pintar,” ujar Icha tak menggubrisku.
“UI gitu loh…!” balas Marsya.
“I agree with you all,” Heru malah melakukan tos dengan dua cewek tersebut. Sial!
“Dengar ya, Deni tuh anaknya biasa saja. Nggak pintar-pintar amat kok. Buktinya tahun lalu pun dia tidak berhasil lulus seleksi masuk UI. Tahun ini saja dia beruntung.”
“Berarti kita nggak beruntung dong karena nggak masuk UI,” Marsya mencibir.
“Ya…gue sih enggak tahu kalau kalian. Tapi kalau gue emang dari sananya nggak niat buat masuk UI. Jadi bukan karena nggak beruntung, tapi karena memilih.”
“Tetep aja menurut banyak orang, anak UI lebih unggul daripada yang swasta.” Marsya masih keki dengan pernyataanku barusan.
Wah, gara-gara si Deni, aku jadi kelepasan ngomong yang nggak-nggak. Sepertinya anak itu memang membawa pengaruh buruk buatku.
“By the way, kita duluan ya,” ujar Icha seraya bangkit dan diikuti Marsya.
“Iya udah sore nih, kita mau ke Margocity dulu sebelum pulang.”
“Dasar cewek, hobinya belanja aja!” Seruku. Heru terkekeh mendengarnya.
“Eits! Ini namanya fashionable, gak gaul ah!” Seru Icha membela diri.
“Oh ya,” ujar Marsya. Aku melirik ke arahnya, “Kapan-kapan kenalin kita dong dengan sepupu lo itu.”
Aku menggeleng pasti, “Hell no! Ms. Ganjen!”
“Loh, daripada kalian kemana-mana selalu berdua. Bagusnya gue bukan homopobhia, kalau iya sudah dari awal gue minta pindah kelas.”
“Hey, kita kompak!” Seruku dengan nada tinggi. Sewot dituduh yang nggak-nggak.
“Ya! Kita kompak,” Heru membelaku, “tapi emang Ravian sih yang selalu ngikutin gue kemanapun pergi.”
Mereka tertawa. Aku cemberut seraya meninju pundak Heru. Dia meringis kesakitan. Sialan!
Dua cewek itu pun pergi meninggalkan kami. Aku bernapas lega. Kalau ada mereka suasana jadi ribut. Dan yang selalu mereka bahas nggak lain dan nggak bukan masalah cowok. Aku salah juga membuka percakapan tentang Deni di depan mereka. Hasil akhirnya bisa diprediksi, hari-hari kedepan aku akan terus mendengar nama Deni dari mulut mereka. Sampai rasa penasaran mereka hilang dengan bertemu langsung padanya. But as I said, hell no!
Jangan harap aku mau mengundangnya dalam ‘kelompok-bermain’-ku. Deni sudah cukup membuatku susah di rumah. Dan tidak di luar rumah.
Entah mengapa aku merasa ada yang salah. Aku yang terlalu arogan, atau memang Deni yang menyebalkan. Tapi Deni memang memasang wajah permusuhan. Aku melihat dari sorot matanya yang dingin. Dari tatapannya yang mengejek. Mungkin dia merasa hebat karena sudah bisa menyaingi tinggi badanku, menyaingi tegap badanku, dan menyaingi nilai ujianku. Mungkin dia merasa bangga karena bisa diterima di kampus hebat macam UI, sementara aku tidak. Ya, memang Deni yang menyebalkan, bukan aku.
Padahal sejak kecil, kami sangatlah akrab. Sangat dekat. Setiap tahun aku akan selalu minta menginap di rumah Paman Kukuh saat liburan sekolah. Deni menjadi temanku yang akrab. Kami biasa bermain di kebun belakang. Berkejaran di antara rimbunnya pepohonan rambutan. Dia memang selalu kalah saat berlari, selalu takut saat memanjat pohon, selalu menangis saat terjatuh. Tapi dia tidak pernah menyerah untuk menjadi temanku. Tapi memang, pertemanan kami satu arah. Dia lebih banyak menurutiku, lebih banyak mengikuti arah permainanku. Dan aku akan merasa senang sekali saat kuajak dia memanjat pohon jambu biji dan dia menjerit-jerit dari bawah, “Ravian aku tidak bisa naik! Turun dong! Kita main di bawah saja, kita lihat ikan saja!”
Aku cuma bisa mendesis, “Dasar cowok lemah!”
Satu-satunya kesamaan kami adalah kesukaan pada ikan. Pakde Kukuh memelihara banyak ikan di rumahnya. Kami sangat suka mengamati ikan-ikan yang melayang di aquarium. Bayangkan, Pakde Kukuh punya sedikitnya dua aquarium besar di ruang tamu dan di ruang tengah, satu aquarium berbentuk bola kristal di ruang makan dan satu kolam ikan koi di halaman depan rumah. Sungguh menakjubkan. Sementara di rumahku, Papa malah pernah membuang ikan mas koki yang ada di kamarku. Katanya dia melihatnya mengambang suatu hari. Padahal aku tahu itu karena dia tidak suka dengan ikan. Apapun alasannya, Papa telah mengajakku perang saat itu.
“Pulang yuk!” seru Heru membuyarkan lamunanku.
“Ayo,” sahutku.
“Nanti malam lo ke rumah gue nggak?”
“Kenapa? Belum juga pisah lo udah kangen sama gue.” Aku berkata asal.
“Enak ajah, kayak nggak ada cewek ajah di dunia sampe harus kangen sama lo!”
“Sial!” Aku terkekeh, “Lihat nanti sajalah.”
“Soalnya bokap gue ngajakin makan malan di luar nanti malam.”
“Tumben.”
“Yah, mumpung dia lagi ada di Depok sini.”
“Oh iya. Gue lupa kalau bokap lo sering ngilang.”
Heru menjitakku. Aw! Aku menggerutu.
Kami pun pulang bersama-sama.
*****
Aku baru saja selesai mandi saat pintu kamarku diketuk. Masih setengah telanjang dengan handuk lebar melilit di bawah pusar, aku membuka pintu kamarku. Begitu kulihat wajah Deni disana, langsung kupasang muka masam. Mau apa dia?
Sesaat dia menatapku dari atas hingga bawah. Kenapa? Belum pernah lihat orang habis mandi? Tapi tatapannya yang dingin membuatku enggan untuk memulai perang mulut.
“Aku mau pinjam kamus bahasa Inggris. Kata Kak Nita ada sama kamu.”
“Oh,” ujarku. Kemudian aku mempersilakannya masuk. “Cari sendiri di rak.”
Aku duduk di bibir ranjang sambil mengeringkan rambutku dengan handuk kecil.
“Memangnya di jurusan biologi ada pelajaran bahasa Inggris ya?” Aku bertanya dengan malas. Kuperhatikan dirinya yang sibuk mencari kamus bahasa Inggris di deretan buku-buku kuliahku. Sejenak dia tidak menjawab, matanya memperhatikan isi rak buku.
Setelah mendapatkan kamusnya dia berbalik dan menatapku, “Bahasa Inggris kan mata kuliah dasar semua jurusan.”
“Oh, iya ya…” jawabku sekenanya. Dia pasti menyadari kalau aku enggan berlama-lama bicara dengannya.
Tapi dia tidak langsung pergi dari kamarku. Dia malah memperhatikan akuarium kosong di samping meja belajarku. “Kok nggak ada ikannya?” tanyanya.
“Sudah mati,” jawabku singkat. Dia mengerutkan kening, aku jadi heran apa dia tidak mengerti maksud ucapanku, “Iya ikannya sudah mati terus aku buang.”
“Nggak pelihara lagi?”
“Buat apa?”
“Dulu kan kamu…”
“Ssst!!” Aku menyuruhnya diam. “Lain dulu lain sekarang. Kita tidak hidup di masa lalu, Den.” Aku bangkit berdiri, memintanya pergi dari kamarku. “Jangan pernah ingat masa lalu lagi.”
Deni keluar kamarku dan aku menutup pintu rapat-rapat. Masih berdiri di bibir pintu, aku tertegun dengan ucapanku sendiri barusan. Apa yang salah? Mengapa aku tidak suka dengan keberadaan Deni?
Aku menatap akuarium kecil yang telah kering di samping meja belajarku. Kalau bukan karena Papa membuang ikan-ikan mas kokiku, mungkin aku juga akan masih memelihara ikan. Aku menatap layar monitor komputer di sebelahnya, ada screensaver yang menampilkan akuarium digital. Kupikir, lebih aman akuarium di dalam monitor, tidak perlu menguras dan tidak perlu mengisi air. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di dalam benakku.
Aku jadi teringat bagaimana dulu setiap kali berkunjung ke rumah Pakde Kukuh, aku selalu berdecak kagum melihat tarian-tarian indah dari ikan koi di kolam depan rumah Pakde. Sesekali kulembar sejumput makanan ikan dan melihat kawanan koi tersebut berebut makan. Atau saat melihat ikan arwana di akuarium besar di ruang tamu. Gerakannya yang elegan sangat menarik perhatianku. Tak bosan aku memperhatikan sisik-sisik keemasannya yang berkilauan diterpa cahaya lampu.
Biasanya Deni akan ikut menemaniku memperhatikan ikan-ikan di rumahnya. Dia tidak banyak komentar, dia selalu menyetujui apa yang aku katakan.
“Ikan arwananya bagus, ya!”
“Iya, bagus.”
“Segar melihat ikan-ikan koi di kolam, ya!”
“Iya jadi senang melihatnya!”
“Banyaknya ikan-ikan di rumahmu!”
“Iya memang banyak!”
Aku menatapnya dan terkekeh, “Kalau besar nanti aku mau jadi ahli ikan!”
Deni tersenyum menampakkan giginya, “Aku juga mau jadi ahli ikan,” ujarnya menimpali, “Eh, memangnya ada ya ahli ikan?”
“Ada!”
“Pekerjaannya seperti apa?”
“Ya…” aku bingung sendiri, “mungkin memelihara ikan dalam jumlah banyak.”
“Seperti penambak ikan dong!”
“Hah?” Aku jadi sangsi dengan jawabanku sendiri, “Aku tidak mau jadi tukang tambak ikan! Aku mau jadi ahli ikan.”
“Peneliti kali ya…” Deni mencoba menebak.
“Ya, mungkin peneliti ikan,” sahutku ragu, “Pokoknya ahli ikan. Titik.”
Deni tertawa. Aku pun ikut tertawa.
Ah, mimpi masa kecil yang aneh. Saat kanak-kanak, kita memang sering kali mencetuskan apa yang ada di pikiran kita semaunya, sesuai imajinasi kita, sesuai kesukaan kita. Dan saat besar barulah kita sadari kalau ucapan kita dulu hanyalah ucapan bocah yang belum mengerti apa-apa. Karena hidup bukan sekadar merajut mimpi, tapi menghadapi kenyataan yang ada.
Dan kupikir, tanpa perlu menjadi ahli ikan aku tetap bisa menyukai ikan. Meskipun Papa tidak suka dengan peliharaan ikan, aku tetap bisa memilikinya di laboratorium sekolah yang kemudian kubawa sampai ke kampus. Aku tetap bisa memperhatikan tarian ikan laut di layar monitor dalam bentuk screensaver. Aku masih tetap bisa berkunjung ke Taman Mini dan memasuki Museum Air Tawar untuk melihat banyaknya ragam ikan. Aku masih tetap bisa menyukai ikan. Ya, tanpa harus menjadi ahli ikan.
*****
“Kata Kak Nita, mungkin kita bisa mengambil jurusan kelautan,” ujarku suatu ketika di corong telepon.
“Kelautan ya, sepertinya asik. Kita bisa menjadi manusia ikan nantinya,” Deni menyahut sambil terkekeh.
Aku ikut tertawa ringan, “Ngaco ah!”
Aku diam sejenak kemudian melanjutkan, “Tapi di kotaku tidak ada jurusan kelautan. Aku ingin masuk kampus yang bagus setelah lulus SMA nanti, aku ingin masuk UI. Tapi di UI tidak ada kelautan.”
“Hm…” Deni bergumam seolah berpikir, “mungkin tidak harus di jurusan kelautan.”
“Lantas?” Tanyaku, “Apa di kedokteran hewan termasuk memeriksa kesehatan ikan?” kelakarku.
Deni tertawa.
“Sebenarnya, yang kita inginkan seperti apa sih?” Deni bertanya seperti pada dirinya sendiri. Aku hanya bergumam tak jelas. Aku sendiri pun tidak paham. Anak kelas 7 SMP sepertiku merasa kesulitan menentukan keinginan ada di dalam benakku. Begitu banyaknya keinginan, sampai-sampai aku tidak tahu mana yang merupakan mimpi masa depanku.
“Kalau aku ingin menjadi ahli komputer, sekaligus ahli ikan. Ingin punya akuarium besar, tiga kali lebih besar dari punyamu. Aku juga ingin punya kolam ikan koi yang banyak. Aku juga ingin memelihara ikan lumba-lumba. Sepertinya seru punya ikan lumba-lumba.”
“Kamu ingin jadi ahli komputer?” tanya Deni meragukan keinginanku, “Itu bukan kamu yang seperti biasanya.”
“Aku ya aku, kamu nggak terlalu paham kan tentang aku. Terserah aku dong mau jadi apa,” nada suaraku mulai meninggi, mengajak berdebat.
“Kamu kan ingin jadi ahli ikan,” Deni menegaskan, “jadi ahli ikan saja. Tidak usah memikirkan jadi ahli yang lain.”
“Loh? Kamu kok jadi maksa gitu!” Aku tersinggung. “Kalau gitu kamu jadi tukang ikan aja!”
“Kita kan sama-sama ingin jadi ahli ikan.”
“Tapi aku juga suka main game di komputer. Aku ingin jadi ahli komputer juga.”
“Kamu nggak fokus,” celetuknya.
“Kamu sok tahu!” Balasku.
Akhirnya sudah bisa ditebak. Aku menutup telepon dengan kasar.
Dasar bocah keras kepala! Umpatku setelah gagang telepon ditutup.
Aku beranjak dari ruang tengah dan menuju kamarku di lantai atas. Sampai di kamar, aku asik bermain-main dengan akuarium kecilku di samping meja belajar. Dua ekor ikan mas koki menari-nari menggoyang-goyangkan ekornya dengan gemulai. Aku tersenyum sendiri.
Untuk punya akuarium besar, rasanya aku tidak perlu menjadi ahli ikan. Aku akan menabung yang banyak kemudian membuat akuarium besar-besar dan banyak seperti di Museum Air Tawar di Taman Mini, atau aku akan membuat museum yang serupa saja sekalian. Kalau aku adalah pemilik museumnya itu artinya semua ikan yang ada di museum adalah kepunyaanku. Wah, pasti seru sekali memiliki banyak akuarium dan ikan yang beragam.
Aku berdecak atas mimpi hebatku. Rupanya bocah SMP sepertiku bisa sangat berapi-api saat bermimpi. Aku pun melupakan perdebatanku dengan Deni di telepon tadi.
*****
“Inilah hebatnya perempuan!” Seru Marsya sambil melambai-lambaikan kertas kisi-kisi tugas Algoritma Pemrograman. Aku keki, tapi berusaha tidak tertarik.
“Darimana lo dapat itu, Sya?” Tanya Heru. Suasana di kelas tidak terlalu ramai. Bisa dipastikan Marsya bakal diserang warga satu kelas kalau tahu dia punya kertas tugas mata kuliah paling sakral di jurusan teknik informatika ini.
“Nggak penting dapat darimana, yang pasti gue tahu porsi tugas kali ini bakal dapat poin besar dari Pak Warsito. Siap-siap IP gue naik drastis,” Marsya menampilkan wajah bangga.
“Ssst, jangan keras-keras, Sya,” Icha tampak cemas, “Nanti banyak yang tahu bisa berabe kita!”
“Menurut gue sih, nggak ngaruh ya kalau cuma Algoritma Pemrograman doang yang dapet nilai A. Supaya IP lo bengkak tetap saja mata kuliah yang lain juga harus bagus,” ujarku.
“Hm, betul juga tuh,” Icha setuju denganku, aku tersenyum pada Marsya. Merasa menang.
Tapi Marsya tak pantang menyerah, “Okey, memang kita harus dapat A tidak di satu mata kuliah, tapi siapa sih yang mau ketemu lagi sama mata kuliah paling menyebalkan tahun depan cuma gara-gara dapet nilai C,” ujarnya. “Lo sendiri sering ribut kalo algoritma pemrograman mata kuliah paling susah kan!”
“Ya udah sih, Sya,” ujar Heru, “Intinya lo mau ngasih lihat nggak?”
Marsya terkekeh. Aku manyun. Kalau sudah seperti ini, cewek ini bakal jadi nenek sihir paling mengerikan. Lihat saja, dia pasti minta yang nggak-nggak.
“Ini nggak gratis, bro,” ujar Marsya. Icha ikutan tersenyum. Heru malah tampak antusias. Dasar norak!
“Ada barang, ada harga,” Icha menimpali.
“Emangnya lo mau ditraktir apa?” Heru langsung tanya harga.
“Bukan cuma gue, tapi kita berdua,” ujar Marsya. “Karena kita yakin seratus persen soal yang ada di sini bakal sama seperti yang dikasih Pak Warsito nanti, so harganya bakal tinggi.
“Ribet amat sih!” Heru mulai tak sabar. “Sebut aja mau ditraktir apa!”
Sepertinya Heru sudah putus asa. Nada suaranya sudah tidak menampilkan harga diri. Aku sih masih tetap cuek tak bergeming.
“Oke, pertama traktir kita makan di Hanamasa Margocity.”
“Sial!” Umpatku seketika, “Nggak salah tuh!”
Heru ikutan manyun, dia bisa mendengar dompetnya merintih begitu disebut nama Hanamasa. Kalau cuma mengandalkan uang sakunya saja mana cukup mentraktir dua cewek genit ini. Hanamasa kan termasuk restoran kelas menengah ke atas. Terlalu berat buat kantong mahasiswa seperti Heru.
“Kedua,” Marsya tidak menggubris reaksiku, “Lo mau ikutan nggak?”
Aku tampak ragu, “Emang kenapa?”
“Karena syarat yang kedua ini ada hubungannya sama lo.”
“Eh?”
“Memangnya apa?” Heru penasaran. “Udah, Rav. Ikutan ajah, tugas kemaren kan lo dapet jelek nilainya! Masa lo nggak mau memperbaiki hidup lo sih!”
“Nggak usah berlebihan deh, Ru!” Seruku sambil menatap keki ke arah Heru, “yaudah, gue ikutan. Apaan syarat yang kedua, jangan traktir lagi ya. Syarat yang pertama ajah kita berdua kudu rembukan sama RT dan RW, minta sumbangan dana.”
“Halah, berlebihan lo!” Seru Icha. Kemudian dia tertawa.
“Nah, yang kedua…” Marsya pasang muka seperti host kuis yang bikin penasaran. Sok artis nih anak!
“Saat makan di Hanamasa nanti, kita berdua pengen makan bareng sepupu lo!”
“What?” Aku ternganga.
“Iya,” ujar Icha, “anggap saja lo ngenalin dia.”
Heru tertawa pelan. Kemudian dia berujar, “Ajak aja, Rav. Kalian dulu kan dekat.”
Aku menelan ludah. Ada keengganan yang berkecamuk dalam dadaku. Mungkin ini bisa jadi jalan aku dan Deni kembali dekat seperti dulu. Tapi, ah. Rasanya rentang lima tahun telah cukup membekukan hatiku. Apalagi wajah permusuhan Deni tidak bisa hilang dari kepalaku. Dia pasti juga merasakan hal yang sama. Ya, sama-sama enggan berkomunikasi.
“Jadi bagaimana?” Marsya menatapku dalam-dalam. Memaksa menyetujui permintaannya.
Heru menyikutku. Memintaku cepat melakukan keputusan. Nilai algoritma bagus dan kembali berteman Deni, atau nilai algoritma hancur dan tetap jauh dengan Deni. Pilih mana? Aku pusing sendiri. Mereka curang sekali, menempatkan aku sebagai orang yang harus memilih. Dan pilihannya sungguh tidak mengenakkan.
“Ravian, jadinya bagaimana nih?” Icha menegaskan lagi.
Aku tersenyum kecut. Kemudian anggukanku dibalas dengan seruan senang dari dua cewek ganjen ini. Aku mengumpat dalam hati.
*****
Selepas pulang dari rumah Heru, pukul sembilan malam aku menghampiri kamar Deni. Aku akan berusaha ramah. Yah, seramah mungkin. Biar Deni tidak menolak ajakanku untuk makan di Hanamasa. Maka kuketuk pintu kamarnya yang tertutup. Entah mengapa aku berdebar-debar. Aku gugup.
Pintu pun terkuak. Wajah Deni menyembul di balik pintu. Ada raut heran di wajahnya. Mungkin dia bertanya-tanya ada perlu apa aku ke kamarnya. Apalagi sejak kejadian beberapa hari lalu, saat dia kuusir dari kamarku, kami sama sekali tidak bicara. Aku merasa bersalah.
“Boleh aku masuk?” tanyaku. Dia hanya berdehem dan mempersilakanku masuk dengan isyarat matanya. Orang ini bisu ya? Pikirku. Kenapa sih dia?
Aku duduk di kursi belajar sementara dia duduk di bibir ranjang.
“Hey!” Aku berseru saat mataku tertumbuk pada sebuah toples kaca di meja belajarnya. Ada beberapa ikan gappi warna-warni dan seekor ikan mas koki mugil. “Sejak kapan ada ikan di kamarmu?”
Aku tidak menyadari kalau wajahku berbinar-binar.
“Kamu ada perlu apa?” Deni membuyarkan fokusku pada ikan-ikan di dalam toples. Aku terkesiap kaget dan menatapnya dengan gugup.
“Aku…” bibirku ragu mengucapkan niatku, “aku mau minta maaf soal waktu itu.”
What? Kenapa aku malah minta maaf. Sial! Aku jadi tidak bisa mengontrol ucapanku.
“Oh, aku tidak marah,” jawabnya. Tapi nadanya yang dingin mengisyaratkan kalau dia sangat marah.
“Aku tidak bermaksud kasar,” ujarku lagi. Apa ini? Aku malah jadi seperti sosok yang lemah begini. Aku menggerutu dalam hati.
“Aku tahu.”
“Eh?”
“Kalau soal itu, kau nggak usah repot-repot ke kamarku. Aku sudah maafkan.”
Aku diam saja. Bingung mau berkata apa lagi. Berkali-kali kutelan ludah yang mengganjal kerongkonganku, tapi tak juga membuatku lancar meluncurkan kata-kata.
“Ngomong-ngomong, hari Minggu ini kau sibuk tidak?” tanyaku akhirnya. Ada kelegaan saat berhasil memecah kekakuan yang ada. Dia menggeleng. Itu artinya sibuk atau tidak?
“Aku ingin mengajakmu makan di Margocity.”
Oh, Tuhan. Ini seperti ajakan kencan saja. Tidak, ini ajakan persahabatan. Semoga dia memahami maksudku.
“I’m free,” ujarnya. Itu artinya mau ikut atau tidak?
“Teman-teman perempuanku ingin mengenalmu, mereka pasti senang kau bisa ikut,” lanjutku. Damn! kenapa kuceritakan soal ini! Harusnya biar saja nanti kukenalkan di sana. Jangan sekarang ngomongnya.
“Eh?” Wajah Deni berubah keruh. Tuh, kan? Aku menyesali ucapanku yang terakhir. “Aku tidak ikut,” katanya datar.
Dadaku seperti ditohok. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya kami hanya saling diam. Entah apa yang kupikirkan, kepalaku penuh dengan penyesalan. Sesekali kupandangi toples berisi ikan-ikan kecil, mengalihkan kekakuan di antara kami.
“Masih ada lagi?”
Sumpah! Pertanyaan itu adalah sebuah cara mengusir yang hebat. Tanpa pikir panjang aku pun keluar dari kamarnya sambil berkata, “Nggak ada.”
Begitu masuk ke kamarku sendiri, langsung saja kurebahkan tubuhku di kasur. Hah! Sial betul! Kenapa tadi aku bicara seperti itu. Aku tahu sekarang, mengapa aku malas berkomunikasi dengannya, mengapa aku enggan bercakap-cakap dengannya, karena aku yang memberi jarak itu sendiri. Aku tidak bisa mengungkapkan maksud pikiranku dengan baik. Sering terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Deni.
Pikiranku melayang pada hari terakhir kalinya aku ke rumah Pakde Kukuh.
Saat itu seperti biasa aku dan Deni berlarian di kebun belakang rumah Pakde Kukuh. Aku mengajaknya memanjat pohon jambu di dekat pepohonan rambutan. Seperti biasa, Deni memandangku cemas dan berteriak dari bawah, “Hati-hati, Rav. Lebih baik turun saja. Aku tidak bisa naik!”
“Ah, kau cowok lemah. Masa memanjat pohon saja tidak bisa!” Teriakku dari atas pohon. Aku memetik sebuah jambu di dekatku dan memakannya. Memamerkan pada Deni betapa asiknya berpura-pura jadi monyet dan memakan buah di atas pohon. Tapi tetap saja Deni tidak tampak tertarik. Dia payah sekali.
“Kau mau jambu tidak!” Seruku waktu itu. Sebenarnya Deni mengatakan tidak, tapi aku tetap berusaha mengambil sebuah jambu yang letaknya agak jauh dari jangkauanku. Maka aku pun dengan berani beranjak sedikit dari tempatku dan sambil berpegangan dengan satu tangan pada batang di atas kepalaku aku pun meraih jambu yang ada di ujung. Aku mendengar Deni berteriak, “Tidak usah, Rav. Aku tidak mau jambunya.”
Entah perasaan sombong dari mana yang mengatakan kalau aku harus tetap mengambil jambu di ujung tanganku. Ah sedikit lagi. Karena kalau berhasil kuambil, artinya aku tak terkalahkan. Deni tak akan sanggup menyaingiku, memanjat saja dia takut apalagi harus mengambil jambu yang letaknya jauh.
Rupanya hari itu adalah hari naasku. Batang pohon yang kuinjak tidak sekuat dugaanku. Diiringi bunyi ranting yang patah, aku menjerit dan terjerembab ke tanah. Deni ikut menjerit dan menghampiriku. Akupun jatuh berdebum….tepat di atas tubuh Deni!
Kakiku terasa sangat sakit. Mungkin saja patah. Oh tidak! Jangan! Aku mengaduh sejadi-jadinya, tapi kemudian terhenti melihat Deni yang cuma bisa meringis sambil menangis. Dia memegangi dadanya. Rupanya kepalaku jatuh tepat di dadanya yang ringkih. Aku panik. Karena kulihat Deni hampir pingsan, napasnya setengah-setengah. Dia butuh pertolongan!
Memang sial hari itu. Aku dimarahi Papa habis-habisan. Malah Pakde Kukuh yang membelaku, mengatakan kalau aku masih kecil. Katanya wajar kalau aku nakal. Wajar karena aku laki-laki. Saat itu aku menangis. Bukan cuma karena rasa sakit di kakiku yang terkilir hebat — untungnya tidak sampai patah –, tapi juga karena merasa bersalah pada Deni. Kondisi Deni lebih parah dari yang kuduga. Ada tulang iganya yang remuk. Dia dibawa kerumah sakit. Bahkan sampai aku pulang kembali ke Depok, Deni belum pulang dari rumah sakit. Aku tidak sempat berpamitan dengannya.
Sejak saat itu aku tidak berani main ke rumah Pakde Kukuh. Aku berpikir Deni pasti dendam padaku. Dia pasti tidak ingin bermain lagi denganku. Aku juga menghindari telepon darinya. Begitu terus sampai enam tahun berselang. Selalu saja ada alasanku untuk menghindar. Ada kegiatan di kampus, belajar kelompok dengan Heru, atau traveling ke gunung dengan teman-teman MAPALA. Pokoknya aku tidak mau berhubungan lagi dengan Deni.
Aku memang salah. Mungkin Deni adalah cowok lemah, tapi dia punya kekerasan hati yang luar biasa. Dia bersikeras ingin berteman denganku. Anak itu memang kepala batu. Entahlah. Aku bingung dengan diriku sendiri. Sebenarnya aku ini kenapa sih?
Sambil terus membayangkan semua kejadian yang telah lampau tersebut, aku pun tertidur sampai pagi.
*****
“Jadi kita cuma berempat nih?” Tanya Marsya, “Lo pasti gak ngajak dia ya…”
“Udah gue ajak kali, Sya. Tapi dia bilang dia nggak bisa.”
“Iya, Sya. Biarin aja nggak ada dia juga kan kita tetap dibayarin Ravian nih,” ujar Heru seolah membelaku. Aku malah mendelik ke arahnya. Enak ajah, tadi kan kita udah sepakat buat patungan! Masa jadi aku yang bayarin semua!
“Berarti, kertas tugasnya cuma kita kasih separuh!” Icha ikut nimbrung.
“Wah, nggak seru dong kalau gitu,” Heru tidak mau dirugikan, “Ravian yang nggak ngajak sepupunya, masa gue ikutan kena getahnya. Gue tetep dapet utuh dong, Ravin saja yang dapat separuh.”
“No,” kata Icha sok tegas, “katanya kalian kan kompak. So, kalau Ravian dapat separuh, lo juga dapat separuh, Ru.”
“Sial dong gue!” Seru Heru. Aku masih diam saja. Tak berminat dengan obrolan mereka. “Kan Ravian yang sering ngikutin gue, jadi ada kalanya kita juga nggak kompak. Seperti sekarang ini. Hehehe.”
Aku menjitak Heru. Dasar teman yang rese! Kalau sudah urusan contekan maunya menang sendiri. Nggak solider!
“Emangnya sepupu lo nggak bisa ikut kenapa sih, Rav?” Tanya Marsya. Masih penasaran rupanya.
“Itu bukan urusan gue,” jawabku singkat.
“Tuh, kan. Kayaknya beneran nih lo nggak ngajak dia kali ya…” Icha masih ngotot.
Merasa kesal dengan kata-kata mereka aku bangkit berdiri dengan muka garang.
“Terserah kalian deh mau bilang apa?!” Aku setengah berteriak di hadapan mereka. Icha dan Marsya tampak terkejut, tidak siap menerima emosiku. Heru diam tak bergeming.
“Yang pasti,” lanjutku, “gue udah ngajak Deni dan dia bilang dia nggak bisa ikut. Titik. Apa perlu gue kasih nomor teleponnya biar kalian ngomong langsung sama dia. Kalian sama keras kepalanya dengan Deni.”
Beberapa pasang mata melihat ke arahku. Aku sudah tak perduli. Aku bosan dianggap tidak mengajak Deni. Aku sudah tidak memikirkan tentang contekan tugas yang mereka janjikan. Aku ingin pulang dan segera tidur. Melupakan semuanya.
Tapi belum sempat aku beranjak melangkah. Seseorang memanggil namaku.
“Ravian.”
Aku yang sedang berdiri menoleh ke arah sumber suara. Begitupun dengan Marsya, Icha dan Heru. Kami semua menatap orang yang tengah berdiri di dekat meja kami. Deni!!
Aku bingung. Apa maksudnya? Dia bilang dia tidak mau ikut. Apa-apaan sih Deni!
“Sorry, tadi aku ada tugas kuliah sebentar. Ravian bilang dia mau ngajak makan bareng teman-temannya. Kenalkan, aku Deni, sepupu Ravian.”
Ekspresi ramah Deni tentu saja disambut dengan suka cita oleh dua cewek genit di hadapanku. Heru melirik ke arahku. Menyikutku, memintaku kembali duduk. Aku menurut. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya kami makan shabu-shabu dan yakiniku berlima. Berceloteh dan bersenda gurau. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti arus perbincangan mereka. Emosi yang sempat meledak tadi membuatku enggan berbicara. Sesekali Heru berusaha mengajakku ikut dalam perbincangan, tapi aku cuma tersenyum atau tertawa dipaksakan.
Tema pembicaraan hari itu adalah Deni. Marsya dan Icha tak henti-hentinya bertanya pada Deni. Tentang kegiatannya, tentang kuliahnya, sampai tentang cita-citanya setelah lulus kuliah. Wow, ini seperti sesi tanya jawab di talkshow saja.
Sampai makanan tandas dan topik perbincangan habis, aku masih juga belum bergeming. Aku hanya menanggapi dengan sedikit sekali kata-kata. Aku kadung sebal tadi. Akhirnya kami pun menyudahi sesi “wawancara” kami. Marsya dan Icha pamit pulang. Begitu pun dengan Heru. Tinggal aku dan Deni berdua. Pulang bersama-sama.
Sepanjang perjalanan aku banyak diam. Deni sesekali mengomentari Marsya dan Icha. Katanya dua cewek itu heboh juga. Dalam hati aku membenarkan, memang mereka dua cewek gila!
“Kamu sering main ya sama Heru?” tanyanya kemudian. Aku tidak langsung menjawab. Angkot yang kami tumpangi sudah sampai di tujuan. Kami pun turun di jalan Akses UI dan menyeberang ke arah Kelapa Dua.
“Iya, kenapa?” Jawabku begitu dekat dengan rumah.
“Nanya aja,” ujarnya, “soalnya kamu hampir setiap malam ke rumah Heru kan.”
Aku hanya diam. Rupanya dia memperhatikanku juga. Begitu sampai di rumah aku langsung menuju lantai atas. Deni mengekor di belakang. Sebelum masuk kamar aku menoleh ke arahnya dan mengucapkan, “Thanks udah mau datang.”
Aku berbalik dan membuka pintu. Baru selangkah kakiku masuk ke kamar, Deni sudah mencekal lenganku. Dia ikut masuk ke dalam kamarku.
Aku menatapnya kaget. Tidak mengerti dengan maksudnya. Kutepis tanganku kasar.
“Kenapa?”
“Kamu yang kenapa?” Dia balas bertanya.
“Apanya yang kenapa?” Loh aku sendiri jadi bingung dengan pertanyaan yang terus keluar.
“Kamu itu kenapa berubah?”
Aku diam. Bersandar di tembok dekat meja belajar. “Aku nggak ngerti maksudmu.”
“Kamu bilang kamu suka pelihara ikan, mana buktinya.”
Aku mendengus. “Jadi ini soal itu?”
“Soal apa?”
“Soal ikan-ikan sialan itu!” Aku mulai menghardiknya. Aku tidak suka perihal ikan dibahas lagi. Aku tidak suka saat dirinya mencampuri privasiku. Suka-suka aku dong, mau pelihara ikan atau tidak. Bukan urusannya juga kan…
Deni menghampiriku. Dan dengan seketika meninju tembok tepat di samping kepalaku. Sial! Apa maksudnya ini! Dia mau ngajak berantem? Jangan bilang aku takut cuma gara-gara badannya sekarang lebih besar dariku. Dasar Cowok Lemah Bekepala Batu!
Tapi aku diam. Kami saling tatap. Aku melihatnya mengerutkan kening. Bukan permusuhan yang kulihat dimatanya. Bukan amarah yang ada di dalam sana. Aku melihat kekecewaan di matanya.
“Mungkin menurutmu semua tentang ikan adalah mimpi masa kecil. Mungkin menurutmu aku terlalu kekanak-kanakan,” ujarnya memecah kesunyian. Dia menarik nafas dan melanjutkan, “tapi aku selalu menjaga mimpi kita. Ya, mimpi kita berdua!”
“Gila!” Seruku sambil mendorong tubuhnya. “Grow up, man!! Kita tidak hidup di dunia khayalan. Kita hidup di dunia nyata. Semua tentang mimpi adalah bullshit! Aku sudah bilang, lupakan semua itu. Cuma orang lemah yang terpaku pada mimpi masa kecil!”
“Kamu yang lemah!”
“Kamu yang bego!” Seruku tak kalah sengit. “Buat apa terus bermimpi hah!”
“Kamu nggak berani! Kamu bilang mau jadi ahli ikan, kamu bilang mau masuk UI! Mana usahamu! Kamu nggak berani! Kamu lemah!”
Aku melotot. Ingin sekali rasanya kutonjok mulut kurang ajarnya. Berani sekali dia berkata begitu padaku. Tapi tanganku gemetar, meski sudah kukepal sekeras batu.
“Aku tidak pernah memusuhimu. Tapi kamu menjauhiku. Aku tidak mengerti,” Deni seperti lepas kendali. Kata-katanya deras mengalir tak terbendung lagi. “Aku heran, dari mana kau dapatkan kesombongan itu! Aku tidak pernah melihatnya ada pada diri Om dan Tante Amarta!”
“Cukup!” Aku mengeraskan rahang. Menahan emosi.
“Aku bisa saja mengambil jurusan biologi di Bogor. Tapi aku berjuang mati-matian untuk bisa masuk UI demi menunjukkan padamu kalau aku akan tetap menjaga mimpi kita. Sampai kapanpun.”
“Kubilang cukup!” Aku tak berani menatapnya. Aku tak mau Deni melihat kalau aku juga menyesali diriku. “Keluar dari kamarku,” malah kalimat itu yang meluncur pelan dari mulutku.
“Kau tahu,” Deni sama sekali tak menggubris perkataanku, “Ayahku sebenarnya memintaku untuk tidak tinggal di sini, dia ingin aku mandiri. Dia memintaku untuk mencari rumah kos sebagai tempatku tinggal. Kalaupun aku ingin berkunjung ke rumah Om Amarta, kapan pun aku bisa datang. Tapi itu bukan pilihanku. Aku lebih memilih menerima tawaran Om Amarta untuk tinggal di sini. Aku lebih memilih dekat denganmu.”
“Deni, tolong pergi dari sini!” aku putus asa. Bibirku bergetar. Tidak, jangan sekarang! Jangan menangis sekarang! Atau aku akan dicap lemah olehnya.
Serta merta Deni menghampiriku. Dan aku sangat terkejut saat dia merangkulku erat. Sangat erat. Sampai-sampai aku kembali teringat kalau kepalaku pernah membenam di dadanya dan meremukkan rusuknya.
“Aku cuma ingin kita kembali berteman. Kita ini saudara kan?”
Aku diam tak bergeming.
Aku memang arogan. Aku memang pecundang.
Hinalah sekarang! Katakan saja aku lemah sekarang! Katakan saja aku bodoh sekarang! Karena sekarang aku sudah tak kuat lagi menahan banjir di pipiku.
*****
.end.
