Sekelumit Rasa Rindu (The Complicated Missing)
Rasanya seperti membangun sebuah deret hitung geometri, berlipat ganda tak terbendung. Inilah untaian rasa rindu yang tercipta begitu saja. Ikatan emosi yang terangkai tanpa makna.
Dia begitu manis terasa, seperti manisnya citraan segitiga pascal yang luar biasa. Rapi, bersusun bagai piramida yang kokoh. Dialah sosok yang mengisi pahitnya kekosongan batin ini.
Saat rasa rindu ini mengoyak logika, membentang melengkung, membentuk kurva, sampai pada titik ekstrim berordinat tinggi. Menggebu-gebu sampai tak kuasa. Inilah rasa rindu yang diciptakan olehnya.
Jutaan variabel yang mengisi neuron otakku, memaksaku mencari jawaban atas kalimat terbuka yang menganga. Dimana x dan y bersinkronisasi membentuk polinom yang sesak dalam kolon. Lemas, menyadari dirinya hadir terlalu sering sebagai pelecut gairah penggugah asa. Ada harapan jauh di lubuk hatiku, ada banyak nilai untuk setiap variabel kerinduan ini. Dan tanpa kusadari, telah kugandakan melebihi kapasitasku dengan eksponensial tak berakal. Berpangkat tak sebenarnya, bernilai irasional, bermakna imajiner, berkutat dalam emosi yang memeras logikaku.
Kehadirannya sebenarnya sudah diformulasikan oleh Tuhan. Keterasingan yang kadang hinggap justru memecah kepalaku dan menyadarkan bius birahiku. Ada catatan yang disimpan Tuhan untukku, ada sekelumit rasa rindu yang akan memeras air mata darahku. Tuhan telah sengaja mengirimnya sampai di hatiku. Membawa banyak peluang untuk mentransformasikan keberadaanku, membuatku secara emosi tertranslasi, terotasi, terdilatasi, terombang-ambing dalam dimensi yang pasi.
Aku menyadari kesalahan ini memiliki rasa nikmat yang berarti. Kebimbangan ini memiliki emosi yang rumit, yang kadang membuatku serasa terjepit. Dan sekelumit rasa rindu ini telah diciptakan olehnya dengan penuh kejujuran.
